Kamis, 09 Februari 2012

Semua Bermula Ketika Kita Hanya Bisa Saling Menyapa :)

            Tiga tahun yang lalu...

‘ Sini sini kamu sini, ‘ kata seorang teman seraya menarik tangan ku di tengah kerumunan festival itu.

‘ Aduh penuhnya, tau gini nunggu di kelas aja deh aku –o-, ‘ keluhku sambil terus berjalan berdesakan mencari tempat yang tepat.
 
           Sepersekian detik, setelah mendapatkan tempat yang sesuai, dengan perhatian berlebihan, aku melihat personil band yang sedang main tersebut. Sekilas, mungkin musik yang dimainkan tidaklah istimewa -__- bahkan bisa dibilang pales. Tapi setelah diperhatikan baikbaik memang ada sesuatu yang berbeda yang disajikan band tersebut dibalik ketidakistimewaannya. Sang drummer, mungkin dia memang benarbenar drummer muda terkeren selama ini yang pernah aku temui. Bukan cuma itu, temanteman yang berdesakan di depan panggung ini ternyata memang hanya berminat untuk melihat aksi dari si drummer keren itu. Permainan mulus dengan penuh nafsu yang mungkin semua orang bisa melakukannya. Tapi itulah yang disebut skill. Tidak semua orang mendapat skill yang keren dipermainan ecekecek seperti festival band sekolah antar kelas ini.

‘ Itu drummernya siapa?, ‘ tanyaku kepada teman disebelahku.

‘ Teman seangkatan kita, samasama baru masuk kok. ‘

‘ Dari SMP mana? Perasaan baru liat deh, ’ tanyaku sambil terus memperhatikan.

‘ SMP X, dia temen si anu loh, masa engga tau sih? ‘

‘ Keren deh, sumpah baru liat ini -__-. ’


 
          Hari berganti, dengan masih didera rasa penasaran sama si drummer keren itu, dengan bakat detektif stalking -___-  aku pun mencari tau semuanya. Di mulai dari FB sampai rumah sampai pacar. Dan ternyata tak disangkasangka, si drummer keren itu memang benarbenar temen si anu yang notabene sekelas sama aku. Dan mereka adalah anggota satu band. Dan yang lebih mengejutkan, semua anggota band itu memang keren dalam memainkan alat musik yang berada di tangannya dengan keahlian masingmasing. Aku yang memang tertarik dengan dunia musik, mulai memperhatikan dan dalam bahasa kasarnya menyukai kehadiran mereka. Mereka memang muda, tapi permainan mereka tidak kalah dengan pemain band festival kelas atas di kota ini.

‘ Belajar gitar darimana?, ‘ tanyaku sambil memperhatikan permainan gitar si anu.

‘ Otodiak, ‘ jawabnya singkat, sambil terus memetik gitarnya.

‘ Kalo si drummer, otodidak juga? ‘

‘ Hmm. ‘

‘ Wow, ‘ sahutku kagum. Pada detik itu juga aku memutuskan untuk mulai menjadi fans tetap band mereka itu.

‘ Nama bandnya apa?, ‘ tanya temanku menyambung pembicaraanku dengan si anu.

‘ … ‘

‘ Artinya apa tuh? ‘

‘ Ada kok di facebook, cari aja pasti ketemu. ‘


             Itu lah awal kisah ini. Bermula ketika kita masih kelas sepuluh dan belum saling mengenal. Menatap muka pun tak pernah karena kita memang beda kelas dan sangat berjauhan. Aku tau dia, dia tak mungkin tau aku.

            Sepanjang hari sejak hari itu, aku sering memperhatikannya. Setiap pulang aku sering melihatnya sedang menunggu bis di halte dekat sekolah. Jaman kelas sepuluh masih cupu, kita belum boleh bawa motor ke sekolah. Pagi di anter pulang ya ngangkot, dan kejadian itu berlangsung hingga kelas sebelas datang.


‘ Kamu dapet kelas mana?, ‘ tanya teman yang sudah ku anggap sebagai sahabat dari kelas sepuluh.

‘ IPA 3 :( yah kita pisahan dong, ‘ jawabku seraya memeluknya.

‘ Pisah sih pisah tapi kelasnya sebelahan tuh cuma beda lorong loh -__-. ‘

‘ Oh iya :D. ‘

‘ Eh, aku sekelas sama si drummer loh, ‘ sahutnya bangga.

‘ Hah? Seneng dong bisa mulai deketan x(, ‘ kataku iri.

‘ Makanya minta pindah kelas aja mendingan juga, ‘ usulnya sambil tertawa.

‘ Segampang itukah -___-.’
 

           Keuntungan tersendiri bagiku. Dengan temanku itu sekelas dengannya setiap hari aku bisa jadi bertemu dengannya dan bertatap muka. Sungguh kejadian yang sangat langka. Tentu saja aku gembira dengan kejadian itu. Aku yang susah beradaptasi dengan kelas baruku, setiap istirahat masih saja sering bermain ke kelas sahabatku itu. Dan setiap itu pula aku jadi bisa bertemu dengannya, melihatnya bermain gitar, tertawa dan bernyanyi bersama temantemannya. Walaupun aku tahu kita masih tak saling mengenal satu sama lain.

‘ Aku mulai deket sama dia, ‘ curhat sahabatku.

‘ Oh ya?, ‘ jawabku singkat purapura tidak memedulikan.

‘ Iya, tadi malem kita sms-an sampe tengah malem. Cerita banyaaaaaaaaaaak banget, belajar sejarah bareng, pokoknya seru deh, ‘ ungkapnya menggebugebu.
 
            Aku mulai iri dengan sahabatku itu. Setiap hari ketika waktu istirahat tiba, aku sering mengintip ke kelasnya dan melihat mereka berdua sedang bermain gitar dan bernyanyi bersama. Sahabatku dengan modal vokal yang oke, bisa dengan mudahnya mendekati sang drummer keren itu. Apalagi dengan ceritacerita singkat sepulang sekolah. Sahabatku sering membicarakan si drummer keren, semua kejadian bodoh dan kejeniusan yang ternyata dimiliki si drummer.

‘ Dia itu benerbener engga respek banget sama lingkungan deh -__- masa udah enam bulan sekelas masih belum apal nama temen sekelas. ‘
   
  
           Waktu terus berjalan. Di kelas dua ini sangat sering festival band antar kelas berlangsung. Semakin sering juga aku bisa melihat penampilannya di panggung. Semakin hari dia bertambah keren. Aku jadi semakin mengaguminya saja. Dan semua itu berlangsung hingga ke kelas tiga :D.

           Festival terakhir sekolah karena di kelas tiga ini hanya ada satu kali festival band di sekolah yang bisa di ikuti. Festival yang lain kita sudah disibukkan dengan jadwal ujian dan tetekbengeknya. Dia kembali menunjukan skill-nya. Dan di akhir acara dia bermain bersama teman se-bandnya jaman smp. Benarbenar keren kejadian untuk pertama dan terakhir kalinya aku melihat band keren itu tampil. Sungguh sangat disayangkan.


‘ Kemarin aku dibantuin si drummer loh, ‘ kata teman sekelasku.

‘ Loh kok bisa, emang dia kenal?, ‘ sahutku menanggapi.

‘ Ya engga lah, untuk pertama kalinya aku deket sama dia juga sih. ‘

‘ Emang kemarin ngapain? ‘

‘ Ya kan kemarin motorku macet, sekolah udah sepi, tementemennya pada gamau bantuin -__- cuma dia yang mau bantu, ya udah deh aku terima dengan senang hati, ‘ ceritanya dengan bahagia.

‘ Wah hero nih ceritanya, ‘ sahut teman yang lain. Temanku jadi tersipu malu.
  
             Ada sedikit sesal kenapa pada saat temanku sms minta bantuan aku tidak datang menemuinya –o- andai kemarin aku datang pasti aku bisa ikut ngobrol sama drummer :( bodohnya.


            Malam itu malam minggu dan aku sedang tidak ada kerjaan. Isengiseng aku ol FB,  ternyata si drummer juga sedang ol. Si drummer updet status dan dengan keberanian singkat aku mengomentari statusnya itu. Itulah obrolan pertama sejak tiga tahun yang lalu aku mengenalnya. Dan ternyata dia tau namaku. Hal paling menyenangkan yang tak pernah terpikirkan olehku.

‘ Kenapa engga rekaman aja? Kalian keren, daridulu aku ngefans, ’ kataku polos.

‘ Rekaman? Uang darimana, ‘ tanggapnya.

‘ Nanti aku cariin donatur, sayangkan band sekeren kalian cuma bisa manggung di festival sekolah.’

‘ Hahahaha, ‘ dia hanya bisa tertawa.

            Sejak kejadian itu dia sering memperhatikanku. Setiap bertemu kita juga saling melempar senyum. Dan pas di kantin saat aku ngobrol dengan temantemannya dia pun ikut menyambung obrolan itu. Tidak hanya itu, setiap kita berpapasan dia sering menyapaku xD padahal aku sedang berjalan bersama temanteman sekelasku yang bahkan diantaranya adalah teman masa SMP-nya, tapi hanya aku seorang yang di sapanya. Oh Tuhan, betapa bahagianya :D akhirnyaa. Tapi dengan sikap cool aku purapura tidak peduli dan hanya membalas menyapanya dengan kata ‘Hai’ :). Dan ternyata kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat.


          Hari terus berjalan, terakhir kita bertemu di masjid dan pada saat itu aku yang sedang disibukkan memikirkan pendaftaran PTS tidak sempat menatap dan menyapa. Ada yang mengganjal setelah kejadian itu. Kita jadi jarang bertemu dan jarang menyapa, oh tuhan mengapa sangat tibatiba.  Mungkin takdir berkata lain. Dia memang bukan untukku, dan saat ini Tuhan sedang berusaha menjauhkanku agar rasa yang indah itu tidak menjangkit di hatiku. Berkalikali aku melewati kelasnya tapi dengan kebetulan dia tidak ada dikelas. Saat pulang sekolah biasanya aku melihat pulang dan menyempatkan diri menyapa, sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Sesingkat itukah?







Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar